1

Rahasia Teknologi Quick Count

- Saat ini, Quick Count menjadi pusat perhatian seluruh masyarakat yang ingin memantau hasil penghitungan suara secara instan.

Quick CountQuick Count (Klik Untuk Memperbesar)

Quick count adalah metode verifikasi hasil pemilihan umum, yang datanya diperoleh dari sampel di lapangan. Berbeda dengan poling, sampel tidak diperoleh dari para responden yang ditanyai satu per satu, melainkan diperoleh dari hasil rekap resmi di lapangan.

Lalu, apa saja teknologi yang digunakan untuk mensukseskan sebuah penghitungan quick count? Jawabnya tergantung masing-masing lembaga. Namun, teknologi Short Message Service (SMS) cukup populer digunakan oleh lembaga-lembaga quick count.

Misalnya saja lembaga survei Cirus Surveyors Group, yang menggunakan teknologi pesan pendek di ponsel untuk proses pengumpulan suara. Tentu saja, bukan SMS dari sembarang ponsel yang digunakan.

Menurut Ifa Fathurahman, staf teknologi informasi dari Cirus, 2000 relawan dari Cirus yang berada di lapangan akan mengirim SMS berisi hasil rekap suara ke SMS server.

SMS yang masuk ke server hanya akan dibaca bila SMS tersebut berasal dari nomor yang teregister. "Bila SMS berasal dari nomer yang orang luar, hasilnya tidak akan mempengaruhi penghitungan quick count," ujar Ifa.

Namun, selain pelaporan dari SMS yang masuk, Cirus juga menyediakan sistem pelaporan secara manual, di mana data-data dimasukkan oleh petugas. Oleh software yang dibuat secara khusus, Kemudian, pelaporan manual akan dikombinasikan dengan hasil pelaporan SMS.

Hanya saja, Cirus mengutamakan data-data yang dikirimkan lewat SMS. Ketika data SMS sampai di server, ia akan divalidasi secara otomatis, mulai dari nomor, isi, dan kemudian dibandingkan dengan data yang tersimpan di database.

Bila database ternyata telah menyimpan data yang dikirim dari entri manual terlebih dahulu, maka data dari SMS tidak akan digunakan lagi. Begitu pula bila data SMS yang masuk gagal karena dikirim dengan format penulisan yang salah, maka sistem akan menggunakan data dari entri manual.

Setelah itu, kombinasi antara data SMS dan data entri manual, akan ditampilkan secara grafis, sehingga bisa ditampilkan, misalnya seperti yang ditampilkan pada portal VIVAnews.

Tak jauh berbeda dengan Cirus, Lembaga Survei Indonesia juga menggunakan teknologi SMS untuk melancarkan penghitungan quick countnya. Menurut peneliti LSI Adam Kamil, 2100 relawan LSI yang tersebar di 33 provinsi mengirimkan hasil di lapangan melalui SMS ke SMS gateway.

Kemudian, kata Adam, data SMS tersebut kemudian dipisah-pisahkan berdasarkan variabel-variabel yang dibutuhkan quick count. Setelah data tersebut divalidasi, data tersebut bisa ditampilkan.

Namun, tak seperti Cirus atau LSI, lembaga survei LP3ES tidak menggunakan sistem SMS. Lembaga tersebut mengumpulkan data-data dari lapangan melalui sambungan telepon.

Menurut peneliti LP3ES Marini, 2000 relawannya menghubungi pusat penghitungan quick count LSI yang diperkuat oleh 50 petugas penerima telepon. "Para relawan baru akan menyerahkan laporan dalam bentuk hard copy, belakangan," ujar Marini.

Menurut Eko P Galan T, Manajer Data Cirus Surveyor Group, SMS digunakan karena teknologi itu memberikan hasil suara yang cepat. "SMS dapat mempersingkat jeda waktu yang banyak terbuang bila dilakukan dengan bicara lewat telepon," kata Eko.

SMS, menurut Eko, bisa memotong jalur penyampaian data dari hulu ke hilir secara efisien. Selain itu, kata Eko, SMS adalah teknologi yang mudah, telah diakses luas oleh banyak orang, serta proses coding yang relatif mudah.

Sumber : vivanews




Artikel terkait :


1 komentar:

Juliawan mengatakan...

ic ic good information brother heheheh salam kenal ya gua jadi tau tentang penggunaan IT nya hehhee

Poskan Komentar